Studi Kelayakan Sistem Penyediaan Air Minum

"Di muat di Majalah Air Minum edisi November 2010"



Industri air minum adalah suatu bisnis yang membutuhkan investasi dalam skala besar sehingga untuk mewujudkannya diperlukan suatu perencanaan yang terstruktur dengan baik dan benar. Sebagai perencanaan awal maka harus dilakukan studi kelayakan (feasibility study).

Fungsi studi kelayakan dalam bisnis air minum adalah untuk melihat berapa besar investasi yang harus ditanamkan dan sejauh mana invetasi tersebut mendatangkan keuntungan. Studi kelayakan dalam bidang air bersih ini biasanya juga merupakan  bagian dari master plan suatu pengembangan daerah atau kota.

Studi kelayakan ini menghasilkan 2 kemungkinan. Kemungkinan pertama proyek tersebut layak untuk ditindak lanjuti, kemungkinan kedua tidak layak untuk diteruskan sehingga proyek tersebut gagal atau ditunda dengan terlebih dahulu memperbaiki hal-hal yang dianggap tidak layak tersebut.     

Hal-hal apa saja yang perlu dilakukan dan dibahas dalam studi kelayakan antara lain :

1. Periode perencanaan.
    Jangka waktu 10-20 tahun menjadi pedoman dalam membuat suatu perencanaan sebuah system penyediaan air minum termasuk dalam adalah kapasitas bangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA). Pembangunan suatu unit IPA harus dilakukan secara bertahap. Hal ini untuk menghindari adanya pemborosan, disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan air minum. Jangka waktu pembangunan dituangkan dalam satu bentuk master plan. Kemudian terbagi menjadi beberapa tahapan dalam bentuk outline plan yang merupakan perhitungan yang lebih detail dengan waktu yang lebih singkat.
Sebagai contoh Pembangunan WTP DAM Duriangkang Batam di proyeksikan selama 15 tahun periode perencanaan. Dimulai pada tahun 2000 dengan kapasitas 500 ltr/detik selanjutnya phase II tahun 2002, phase III tahun 2004, sekarang sedang berjalan phase IV dengan kapasitas yang sama setiap phasenya dan masih tersisa 2 x 500 ltr/dtk dalam periode perencanaannya. Hal tersebut untuk mengakomodir petambahan pelanggan sekitar + 18.000 setiap tahunnya.

     2.   Daerah aliran air minum.
     Dalam perencanaan system penyediaan air minum harus dibatasi wilayah yang masuk dalam sistem perencanaan tersebut. Tentunya dengan memperhatikan berapa besar air yang diterima oleh pelanggan, termasuk potensi pengembangan atau perluasan wilayah di masa yang akan datang, termasuk penambahan jumlah satuan sambungan rumah (SR) di wilayah tersebut dan sekitarnya.

     3.  Pertambahan jumlah penduduk pada masa datang.
    Banyak model-model atau perumusan dalam ilmu statistic untuk memprediksi jumlah penduduk dimasa yang akan datang. Salah satu contoh perumusan dengan metode aritmatik.

Pn = Po ( 1 +  r n )

Dimana:               Pn           = Jumlah penduduk tahun n
      Po           = Jumlah penduduk tahun awal
      R             = Angka pertumbuhan penduduk
      N             = Jangka waktu dalam tahun

Untuk metode ini data penduduk dilakukan dengan regresi linear sebagai berikut: 

 
4.   Kebutuhan air minum maximum per penduduk
      Dalam setiap daerah mempunyai pola kebutuhan air yang tidak sama. Para ahli harus melakukan estimasi dan menentukan berapa kebutuhan air maximum per orang dalam wilayah rencana. Dalam suatu sistem yang baru maka data diambil berdasar estimasi yang akurat dari pembagian komunitas yang mempunyai latar belakang, karakteristik dan trend yang sama dalam pertumbuhannya. Pada suatu sistem yang sudah berjalan dan akan dikembangkan maka data yang terbaik dan akurat adalah dengan menampilkan trend dari sistem penyediaan air minum yang sudah ada.

P   5.   Pemilihan sumber air baku.
      Sumber air bisa berasal darimana saja, bisa air permukaan atau air bawah tanah. Untuk air bawah tanah biasanya hanya untuk kapasitas kecil. Pembahasan air baku ini sudah pernah dibahas oleh penulis pada tulisan sebelumnya yaitu Sumber air baku dan problematikanya.

      6.   Dimensi bangunan Instalasi Pengolahan Air Minum.
      Kebutuhan air pada masa yang akan datang pada suatu area layanan harus dimasukan sebagai dasar salah satu ketentuan dalam menghitung ukuran dimensi bangunan IPA dan luas lahan IPA. Ketentuan tambahan tersebut akan berdampak pada kemampuan supply air dan effektivitas biaya pada penyediaan air dari satu plant besar dibanding dengan 2 atau 3 plant ukuran sedang atau kecil pada lokasi dan elevasi yang berbeda. Sabagai dasar perhitungan dalam menghitung luas lahan sebuah plant konvensional menggunakan rumus :  A  ≥ Q0,6
   Dimana :
                   A = dalam hektar
                               Q = kapasitas debit air dalam mgd
                                      (1 m3/dt = 22,8 mgd)

     7.  Ketersediaan lahan bangunan IPA.
    Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam perhitungan sebuah IPA antara lain :
-          jarak bangunan dengan Intake
-          tata letak unit-unit bangunan IPA
-          dampak IPA terhadap lingkungan
-          metode pendistribusian air ( gravitasi atau menggunakan pompa)
-          kondisi geografi (kontur) lahan
-          informasi yang tersedia tentang study bahan
-          ketersediaan tenaga listrik
-          akses jalan menuju jalur utama
-          sejarah masa lalu, apakah pernah terjadi bencana seperti banjir atau gempa bumi
-          biaya konstruksi
-          biaya pemeliharaan
-          situasi dan kondisi keamanan sekitar bangunan
-          kesiapan lahan apabila ada pengembangan bangunan pada masa yang akan datang.
  
             8.    Data curah hujan.
Gb. Siklus hidrologi (sumber dari http://www3.gov.ab.ca)

Curah hujan menjadi sangat penting karena dengan data yang ada kita dapat memprediksikan berapa jumlah debit air yang bisa terbarukan dengan adanya siklus ini. Daerah yang mempunyai curah hujan yang tinggi tentunya akan lebih diuntungkan dengan daerah yang curah hujannya rendah. Curah hujan dalam suatu daerah biasanya mempunyai satu pola yang sama dari satu waktu ke waktu, terkecuali ada situasi ekstrim diluar kebiasaan yang jarang terjadi seperti kejadian El Nino dan La Nina. Biasanya El Nino terjadi rata-rata dalam 4 tahun sekali sementara la Nina dalam 6 tahun sekali. Sehingga dibutuhkan data curah hujan setidaknya selama 10 tahun terakhir sehingga akan didapat trend yang digunakan untuk memprediksi curah hujan pada kemudian hari.

      9.    Daerah tangkapan air (catchment area)
       Luasnya daerah tangkapan air juga sangat diperlukan untuk menampung debit air hujan yang turun pada suatu daerah. Daerah yang sudah rusak kondisi alamnya akan sulit untuk menampung curah hujan karena akan terus turun dan terbuang ke air laut, sedangkan daerah yang masih bagus akan meneruskan air ke dalam tanah dan merupakan cadangan sumber air baku yang baik.
  
            10.  Analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal)
       Dalam prosesnya IPA banyak menggunakan bahan kimia dimana selain bau juga harus dipikirkan bagaimana dengan limbah kimia yang dihasilkan sehingga tidak mengganggu ekosistem lingkungan yang ada. Bangunan IPA juga menggunakan banyak mesin-mesin seperti pompa, genset yang menimbulkan kebisingan yang sangat mengganggu bagi masyarakat disekitar bangunan. Daya listrik yang digunakanpun sangat besar. Oleh karena itu bangunan IPA merupakan bangunan vital yang semestinya dilindungi oleh negara, karena merupakan kebutuhan rakyat banyak dan tidak menutup kemungkinan terjadinya sabotase pada bangunan tersebut. Biasanya lokasi bangunan IPA jauh dari pemukiman penduduk, hal ini untuk mencegah hal-hal tersebut diatas.

     11.  Ketersediaan dana.
      Disebutkan diatas bahwa invetasi sebuah sistem penyedian air minum sangatlah besar. Studi kelayakan merupakan salah satu syarat yang digunakan untuk memperoleh dana tersebut baik dari investor, APBN, APBD maupun pihak kreditor atau bank. Dalam proposal pendanaan tersebut tercantum besarnya dana investasi, sumber pendanaan, periode pengembalian modal investasi, besarnya tarif air minum berdasar golongan, biaya konstruksi, produksi, operasional, maintenance, dlsb.

Data-data yang dibutuhkan dalam studi kelayakan diambil dari hasil survey lapangan seperti sistem penyediaan air minum existing (pipa, pompa, bangunan IPA, reservoir) sumber air baku, daya beli masyarakat, harga material bahan bangunan, daerah industry, daerah perumahan dan lain-lain. Ada juga data yang diambil dari instansi terkait seperti data curah hujan diambil dari BMG daerah, data jumlah penduduk, kondisi social ekonomi, master plan RTRW/RTRK bisa didapat dari pemerintah daerah setempat.

****
Pemilik pekerjaan (owner) dari pekerjaan studi kelayakan sistem perencanaan air bersih suatu daerah biasanya Pemerintah Daerah setempat, tetapi bisa juga dari investor yang akan menaruh dananya dalam proyek tersebut dengan biaya sendiri. Perencanaan dan studi kelayakan sebuah sistem penyediaan air minum suatu daerah sangat komplek sehingga dibutuhkan kerja tim yang terdiri dari banyak ahli dari berbagai disiplin ilmu. Hasil yang baik akan diperoleh dari perencanaan yang baik.

Manfaat Air Minum...

Mengingat pentingnya air, maka anjuran yang diberikan adalah agar kita meminum air sedikitnya 8 gelas sehari atau sekitar dua hingga dua setengah liter air. Berikut adalah beberapa manfaat air bagi tubuh:

• Membuat tubuh lebih sehat

Apabila asupan air mencukupi, hal ini dapat membantu agar distribusi nutrisi ke seluruh tubuh menjadi lancar sehingga semua sel dalam tubuh dapat memperbaiki diri dengan nutrisi tersebut. Dengan minum air sesuai anjuran juga akan meringankan kerja ginjal dan hati sehingga dapat membantu kita terhindar dari penyakit ginjal dan hati.

• Memperlancar pencernaan

Minum air membantu pembuangan racun hasil metabolisme lebih lancar. Ini akan membantu kita terhindar dari penyakit pada pencernaan seperti sakit maag dan sembelit.

• Menambah kecantikan alami

Kekurangan air akan membuat kulit kita terlihat kering dan berkerut. Air akan membantu menjaga kulit agar tetap kenyal sehingga terlihat awet muda dan cantik alami.

• Membuat langsing

Air dapat menurunkan berat badan. Mengapa? Karena air tidak berkalori, bebas lemak, bebas kolesterol, dan rendah natrium.Selain itu, air membantu tubuh menguraikan lemak yang tersimpan.

Bagi yang sedang berdiet, air dapat menjadi teman yang tidak boleh dilupakan. Dengan meminum air hangat sebelum makan, akan membantu kita merasa kenyang sehingga akan mengurangi selera makan dan mengurangi porsi makan kita. Minum air juga tidak akan membuat gemuk karena air tidak mengandung kalori, gula dan lemak.

• Meningkatkan kesuburan

Untuk Anda yang sedang merencanakan kehamilan, ternyata air dapat membantu meningkatkan kesuburan karena akan merangsang produksi hormon testoteron pada pria dan hormon estrogen pada wanita.

.Air Minum

Cara Agar Anda Sering Minum Air:

- Selalu bawa persediaan air minum, misalnya sebotol air.
- Setelah makan, jangan lupa minum segelas air.
- Minum air sebelum, selama dan setelah berolahraga atau melakukan kegiatan yang berat.
- Pilihlah minum air saat beristirahat ketimbang minum kopi, soft drink dan minuman manis lainnya.

Mengingat pentingnya air, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana memilih air minum yang sehat. Bila air minum tidak bersih bisa menyebabkan diare atau penyakit lainnya. Sedangkan saat ini ada berbagai jenis air minum yang ditawarkan seperti air tanah, air dari Perusahaan Air Minum (PAM), Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), air mineral dan air heksagonal. Apa saja perbedaan dari masing-masing jenis air tersebut?

• Air tanah

Bagi penduduk di pedesaan air minum dapat diambil dari air tanah yang diambil dari sumur atau sungai. Tetapi, perlu diwaspadai bila sumber air tersebut berada di kawasan industri atau lokasi pembuangan sampah. Sedangkan di kota-kota besar, misalnya Jakarta, air tanah tidak lagi layak untuk dikonsumsi, karena banyak mengandung bakteri Eschericia coli (E-coli), kandungan besi (Fe) dan Mangan (Mn) serta kadar keasaman (pH) yang melebihi kriteria air minum sehat. Ini disebabkan karena banyaknya polutan yang dihasilkan manusia sehingga merusak air tanah.

• Air PAM

Untuk dapat menghasilkan air yang baik, Perusahaan Air Minum (PAM) sebenarnya memiliki teknologi yang sesuai dengan pengolahan air minum, tetapi ini juga dipengaruhi oleh kualitas dari air yang dijadikan sebagai bahan baku apakah air tersebut tercemar atau tidak.

• Air Minum Dalam Kemasan (AMDK)

Adalah air yang diolah dengan teknologi khusus seperti teknologi sterilisasi kemudian dikemas dalam botol plastik atau wadah lainnya. Izin untuk perusahaan ini biasanya baru akan dikeluarkan bila hasil uji laboratorium baik. Agar mendapat air minum yang baik, perusahaan perlu selalu melakukan kontrol terhadap hasil air minum dan merawat peralatan produksinya dengan baik.

• Air Mineral

Adalah air yang diperoleh dari sumbernya, umumnya dari pegunungan dan langsung dikemas sehingga terdapat mineral di dalamnya dengan kadar tertentu yang diperbolehkan.

• Air heksagonal

Air jenis ini memiliki rangkaian molekul yang terstruktur, berbentuk segi enam sehingga disebut heksagonal. Air jenis ini lebih mudah diserap tubuh, lebih cepat menghantar nutrisi untuk seluruh tubuh, membuang racun sisa metabolisme, serta akan mengoptimalkan metabolisme tubuh.

Secara alami, air ini terdapat dalam sumur air zamzam di Mekah, di pegunungan Alpen, Swiss, dan di Lourdes, Perancis. Selain secara alami, air heksagonal dapat dibuat dengan menggunakan mineral-mineral alami yang dapat membantu pembentukan struktur heksagonal dalam air. Suhu saat pembentukan juga harus diperhatikan karena dapat menyebabkan struktur tersebut menjadi terurai sehingga menjadi air biasa.

Air heksagonal umumnya dijual dalam kemasan, tetapi minuman seperti ini dipercaya lebih menyehatkan untuk tubuh juga dapat mencegah penuaan. Dengan meminum air heksagonal dianggap dapat meningkatkan vitalitas, memperlambat proses penuaan dan mencegah penyakit. Hanya saja, air jenis ini umumnya lebih mahal dibandingkan jenis lainnya.

Sekarang, Anda dapat menentukan mana air minum yang layak diminum. Segera tolak apabila air berwarna, keruh atau berbau. Sedangkan bila membeli air yang dikemas, perhatikan segel tidak terbuka atau bocor.

Berapa Banyak yang Harus Diminum?

Tanpa mengkonsumsi air secara cukup, tubuh dapat mudah terserang penyakit. Maka, jangan lupa untuk mengkonsumsinya minimal 8 gelas setiap hari atau sekitar minimal dua liter air. Setiap hari, sekitar dua liter air terbuang melalui kulit, paru-paru, usus, dan ginjal.

Air yang hilang ini harus diganti agar kita tidak mengalami dehidrasi. Jika Anda kekurangan air atau mengalami dehidrasi, maka beberapa tanda seperti sakit kepala, lelah, pegal, air seni yang pekat, tidak tahan terhadap panas, serta mulut dan mata yang kering akan terjadi pada tubuh Anda.
Berapa banyak air yang harus diminum setiap hari? Bagi orang yang sehat membutuhkan minimal dua sampai dua setengah liter air sehari. Jika Anda berolahraga, maka Anda akan membutuhkan lebih banyak air. Demikian juga jika Anda tinggal di iklim panas. Bagi mereka yang mengalami obesitas, perlu minum segelas air ekstra untuk setiap kelebihan 10 kilogram dari berat badan ideal. Namun, sebaliknya bagi beberapa penderita penyakit tertentu seperti gagal jantung atau gangguan fungsi ginjal, maka beberapa dokter menyarankan untuk tidak terlalu banyak minum air. Ini pun harus dengan rekomendasi dokter ahli.

Jangan gantikan air dengan cairan lain seperti jus buah. Meski membuat tubuh sehat, jus buah mengandung kalori. Demikian juga, minuman yang mengandung gula dan susu, juga akan membuat tubuh membutuhkan banyak air untuk mencernanya. Apalagi jika Anda minum banyak minuman beralkohol atau minuman berkafein seperti kopi dan teh. Minuman-minuman ini memiliki sifat diuretik yaitu senyawa yang meningkatkan aliran seni, sehingga kita perlu minum lebih banyak air guna mengganti apa yang dikeluarkan.

Karena itu, jangan minum air ketika Anda sudah merasa haus. Ketika Anda merasa haus, maka Anda mungkin sudah mengalami dehidrasi. Karena itu, minumlah minimal 8 gelas sehari atau 2 hingga 2,5 liter per hari demi kesehatan Anda. Minumlah segelas air sekarang juga. Diposkan oleh Sii AzHaRi

PDAM Seharusnya Produk Airnya Langsung Dapat Diminum

Kapanlagi.com - Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sebenarnya dapat meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat dengan biaya yang tidak terlalu besar, sepanjang dapat membenahi manajemennya.

"Sepanjang memiliki kemauan maka kualitas dapat ditingkatkan, bahkan air yang dihasilkan dapat langsung dikonsumsi (diminum) dengan biaya yang tidak mahal," kata Kepala Bidang Perencanaan dan Evaluasi Pengembangan Investasi Departemen Pekerjaan Umum, Djoko Rismianto di Jakarta, Kamis (7/4).

Menurutnya, sistem yang dimiliki PDAM saat ini dapat ditingkatkan (upgrade) melalui perbaikan sistem sesuai yang ditetapkan dalam Standar Operasi Prosedur (SOP). Apabila langkah tersebut diikuti sebenarnya kualitas dapat ditingkatkan.

PDAM sudah saatnya mulai melaksanakan hal itu karena sesuai Peraturan Pemerintah No. 16 tahun 2005 mengharuskan pada tahun 2008 sistem yang dimiliki PDAM saat ini harus dapat langsung dikonsumsi (diminum). Untuk menunju ke arah itu maka tahap awal manajemen di PDAM harus diperbaiki terlebih dahulu.

Teknologi Instalasi Pengolahan Air (IPA) sampai layak dikonsumsi sebenarnya tidak terlalu mahal proyek percontohan telah diterapkan di ITB dengan nilai investasi sekitar Rp250 juta dengan kapasitas 1 liter per detik menggunakan pipa berbahan 'stainless steel'.

Biaya yang dibutuhkan tidak mahal, tetapi kualitasnya dapat diibaratkan dengan jam merek Rolex. Teknologi yang diterapkan di ITB menggunakan sistem yang paling mutakhir, namun seiring dengan perkembangan teknologi ini nantinya juga akan semakin murah.

Djoko mengatakan, kualitas air minum yang dihasilkan bahkan lebih bagus dari air mineral karena disamping menggunakan 'Ultra Filter' juga air telah disinari dengan 'Ultra Violet' serta ditambahkan Ozon sehingga air mengandung oksigen (O2).

Sebagai sosialisasi sebaiknya teknologi ini ditempatkan di lokasi-lokasi tertentu terlebih dahulu seperti kampus, tempat wisata seperti Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Kebun Binatang, dan tempat lainnya yang banyak dikunjungi masyarakat.

Menurutnya, apabila ada kemauan beberapa PDAM sudah dapat menerapkan teknologi tersebut, mulai dari tahap penyaringan (filter), sementara untuk instalasi di rumah-rumah disiapkan peralatan ultra violet sehingga nantinya air menjadi layak untuk dikonsumsi. (*/dar)

Tantangan dan Harapan Industri Air Minum di Indonesia

Sudah banyak sekali para penulis dan bloger yang menulis dengan tema air bersih. Saya mencoba ikut sedikit berkontribusi dengan harapan ada feedback, ide, gagasan atau koreksi sehingga bisa saling melengkapi satu satu sama lain. Penulis mencoba menulis secara bertahap sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan penulis. 
 
Seperti kita ketahui bahwa air merupakan salah satu benda ciptaan Tuhan YME yang sangat vital bagi kehidupan makhluk di dunia. Tanpa air makhluk hidup akan mati, tanpa air bumi ini akan kering dan layu. Hanya karena air sesama mahluk hidup bisa saling bunuh, antar bangsa bisa berperang karena berebut akses untuk mendapatkan air.

Air menyelimuti kurang lebih 2/3 bagian bumi, hanya 1/3 bagian dari planet ini yang muncul sebagai daratan. Tubuh manusia juga hampir 75% merupakan cairan. Apabila tubuh manusia kekurangan cairan, mekanisme di dalam tubuh manusia akan merespon sehingga meyebabkan terjadinya dehidrasi. Dari 2/3 air yang ada di bumi 97,5% adalah air laut, 2,5% sisanya adalah air tawar. Dari sejumlah air yang ada 70% berada di kutub sedang sisanya tersebar ke seluruh daratan di muka bumi.

Gb. Bendungan Mrica Banjarnegara by Gatot Prie
 Negara Indonesia beriklim tropis dengan jumlah curah hujan yang cukup tinggi, menjadikan Indonesia salah satu Negara dengan jumlah cadangan air tawar terbanyak di dunia. Tetapi dengan kerusakan hutan yang semakin merajalela dan jumlah luasan tanah yang tertutup  oleh sejumlah besar bangunan terutama di kota-kota besar yang semakin massif tentunya mengurangi jumlah air hujan yang tertampung didaratan, hanya sekitar 25% air yang bisa menjadi cadangan air baku. Selebihnya terbuang sia-sia ke laut.
                                   
Ditambah dengan kerusakan lingkungan akibat limbah industry dan pola hidup manusia yang tidak mendukung kelestarian lingkungan, semakin mengurangi jumlah air baku yang dapat di olah dengan baik ditambah dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk bumi menunjukan perbandingan terbalik 1800    sehingga dibutuhkan tata pengolahan air bersih yang baik, benar, efisien dan efektif. Tentunya dengan biaya yang semurah mungkin karena biaya yang tinggi akan membebani konsumen berupa tarif.

Teknologi yang semakin berkembang dewasa ini telah berhasil melakukan pengolahan air laut menjadi air layak minum (Refer Osmosis), seperti yang dilakukan dibeberapa Negara maju. Tetapi teknologi ini masih terlalu mahal apabila dibanding dengan pengolahan air secara konvensional. Untuk Indonesia pengolahan air secara umum masih konvensional, kecuali ada beberapa perusahaan swasta yang melakukannya untuk konsumsi kapal laut.

Untuk pengolahan dari air baku menjadi air bersih kemudian menjadi air layak minum atau potable water selain membutuhkan biaya yang tidak sedikit tentunya membutuhkan suatu organisasi dengan tata kelola yang baik. Di Indonesia pengelolaan air bersih ini di kelola oleh suatu perusahaan air minum dibawah kendali ditiap daerah tingkat II (kabupaten dan kotamadya) dalam bentuk BUMD dengan nama PDAM. Di beberapa kota besar di Indonesia ada pula yang dikelola oleh pihak swasta seperti di Batam oleh PT. Adhya Tirta Batam, di Jakarta oleh PT. Pam Lyonaisse JaKarta dan PT. Aetra Air Jakarta. Pada beberapa kota lain ada yang pengelolaan dilakukan secara bersama antara pihak swasta dan PDAM dengan model Kerja Sama Operasional. Jumlah seluruh PDAM yang beroperasi di Indonesia ada 392 buah.

Menurut Dirjen Cipta Karya Budi Yuwono dari sejumlah PDAM di seluruh Indonesia hanya 104 buah yang sehat dan meraih untung, sedangkan sisanya tidak sehat. Dengan kondisi ini ditambah dengan target 10 juta sambungan rumah yang harus dicapai pada tahun 2013 dan target MDG’s yaitu 80% daerah perkotaan dan 60% daerah pedesaan akan teraliri air bersih sebelum tahun 2015  secara nasional merupakan tantangan bagi seluruh insan air minum  Indonesia untuk melakukan perbaikan dan pembenahan dalam pengelolaan air bersih.

Berusaha, bekerja keras, saling mendukung satu sama lain dan dengan keseriusan yang tinggi maka seberat apapun tantangan dan target akan terlewati. Semoga. 
 

Sumber Air Baku dan Problematikanya

Sumber air baku memegang peranan yang sangat penting dalam industri air minum. Air baku atau raw water merupakan awal dari suatu proses dalam penyediaan dan pengolahan air bersih. Sekarang apa yang disebut dengan air baku. Berdasar SNI 6773:2008 tentang Spesifikasi unit paket Instalasi pengolahan air dan SNI 6774:2008 tentang Tata cara perencanaan unit paket instalasi pengolahan air pada bagian Istilah dan Definisi yang disebut dengan Air Baku adalah :

“Air yang berasal dari sumber air pemukaan, cekungan air tanah dan atau air hujan yang memenuhi ketentuan baku mutu tertentu sebagai air baku untuk air minum”

      Sumber air baku bisa berasal dari sungai, danau, sumur air dalam, mata air dan bisa juga dibuat dengan cara membendung air buangan atau air laut. Evaluasi dan pemilihan sumber air yang layak harus berdasar dari ketentuan berikut : 
  1. Jumlah air yang diperlukan
  2. Kualitas air baku
  3. Kondisi iklim
  4. Tingkat kesulitan pada pembangunan intake
  5. Tingkat keselamatan operator
  6. Ketersediaan biaya minimum operasional dan pemeliharaan untuk IPA
  7. Kemungkinan terkontaminasinya sumber air pada masa yang akan datang
  8. Kemungkinan untuk memperbesar intake pada masa yang akan datang
Ket gb. Penulis sedang mengukur kedalaman sebagian sisi dam Duriangkang untuk persiapan pembuatan intake.

Dalam jumlah yang kecil, air bawah tanah, termasuk air yang dikumpulkan dengan cara rembesan, bisa dipertimbangkan sebagai sebuah sumber air. Kualitas air bawah tanah secara umum sangat baik bagi air permukaan dan dibeberapa tempat yang memiliki musim dingin bisa memanfaatkan salju sebagai sumber air. Hal ini bisa menghemat biaya operasional dan pemeliharaan karena secara umum kualitas air bawah tanah sangat baik sebagai air baku. Khusus untuk air bawah tanah yang diambil dengan cara pengeboran tentunya melalui perijinan. Hal ini untuk mencegah terjadinya eksploitasi secara besar-besaran. Akibat dari ekplotasi secara besar-besaran bisa mengakibatkan kekosongan air dibawah tanah karena tidak seimbangnya antara air yang masuk dengan air yang diambil, sehingga menyebabkan pondasi bangunan yang berada diatasnya bisa turun atau settlement seperti yang terjadi dibeberapa gedung di Jakarta, juga bisa mengakibatkan intrusi air laut yang masuk merembes menggantikan air tanah tersebut, akibatnya air menjadi asin dan tidak layak pakai seperti di utara Jakarta.

    Disebutkan diatas bahwa tidak semua air baku bisa diolah, oleh karena itu dibuatlah ketentuan sebagai standar kualitas air baku yang bisa diolah. Dalam SNI 6773:2008 bagian Persyaratan Teknis kualitas air baku yang bisa diolah oleh Instalasi Pengolahan Air MInum (IPA) adalah :
  1. Kekeruhan, maximum 600 NTU (nephelometric turbidity unit) atau 400 mg/l SiO2 
  2. Kandungan warna asli (appearent colour) tidak melebihi dari 100 Pt Co dan warna sementara mengikuti kekeruhan air baku. 
  3. Unsur-unsur lainnya memenuhi syarat baku air baku sesuai PP No. 82 tahun 2000 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
  4. Dalam hal air sungai daerah tertentu mempunyai kandungan warna, besi dan atau bahan organic melebihi syarat tersebut diatas tetapi kekeruhan rendah (<50 NTU) maka digunakan IPA system DAF (Dissolved Air Flotation) atau system lainnya yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sebagai contoh untuk dua operator mitra kerja PAM Jakarta menggunakan sebagian besar air bakunya dari bendungan Jatiluhur di Jawa Barat yang disalurkan lewat Kali Malang. Sebagian kecil tambahan dari kali Krukut dan pasokan dari Cisadane Tangerang. Di beberapa kota besar lain juga menggunakan air sungai sebagai air baku seperti PDAM Surabaya yang mengandalkan Kali Surabaya, kemudian PDAM Semarang mengambil dari Kali Garang, Kota Bandung dengan sungai Cikapundungnya, dll.
 
Untuk PAM yang menggunakan air baku dari mata air biasanya adalah kota-kota kecil yang dekat dengan pegunungan dimana biasanya mata air berada. Seperti kota Pemalang dan Banjarnegara di Jawa Tengah, air baku diambil dari Moga di Pemalang dan Sijeruk di Banjarnegara. Biaya yang murah baik dari sisi pengolahan maupun operasional menjadi pertimbangan dalam hal ini. Mata air yang biasanya terletak di kaki bukit secara gravitasi menggunakan pipa didistribusikan kepada pelanggan air minum. Tetapi karena debitnya terbatas maka mata air tidak bisa dipakai dikota besar yang membutuhkan kapasitas air baku yang besar pula.

Ket. Gb. Dam Muka Kuning Batam, tampak bangunan intake WTP Muka Kuning.(sb. http://www.panoramio.com/user/2669815).

Air baku di kota Batam diambil dari 6 dam atau waduk buatan yang ada disana, yaitu dam Muka Kuning, dam Sei Ladi, dam Nongsa, dam Sei Harapan, dam Sei Baloi dan yang terbesar adalah dam Duriangkang.
 Dam Sei Baloi saat ini sudah tidak dimanfaatkan lagi sebagai sumber air baku, karena dari sisi kuantitas sudah sangat berkurang akibat semakin mengecilnya area dam karena banyaknya pemukiman baru yang tumbuh disekitar dam, WTP yang ada mengambil air dari dam Duriangkang dengan cara pipanisasi.

Dam Duriangkang adalah dam terbesar di kota Batam. Pembangunan dam ini cukup unik bahkan mungkin satu-satunya di Indonesia dan merupakan bendungan Estuary terbesar se Asia Tenggara. Awalnya Dam Duriangkang adalah kampung yang berdekatan dengan pantai. Kemudian direncanakan untuk melakukan pembendungan dari daerah yang berdekatan sehingga air laut menjadi terpisah akibat adanya bendungan ini. 

Ket. gb. Dam Duriangkang tampak dikejauhan dengan setting depan Kawasan Industri Muka Kuning Batam..

Informasi yang didapat dari http://ptbck.com/html/indonesia/performakerja_detail.php?id=45+ 400.000 m2. kapasitas tamping dam ini mencapai 107 juta m3 dan bisa diolah dengan debit hingga 3.000 liter/detik. Dam ini dibangun pada tahun 1991 dengan tiga tahap dan selesai pada tahun 1997. Dam ini baru bisa diolah beberapa tahun kemudian setelah dibendung karena harus menurunkan tingkat salinitas air yang mencapai 20.000 ppm hingga maximal 400 ppm sesuai dengan kriteria. Penyebab tingginya salinitas ini adalah akibat dari air laut yang terjebak akibat pembendungan dan tingginya pengendapan lumpur hingga mencapai

Permasalahan sumber air baku bukan hanya bagaimana pengadaannya tetapi bagaimana memelihara dan merawat sumber-sumber air baku yang ada. Hal-hal yang bisa mengakibatkan berkurangnya jumlah air baku yang ada antara lain :
1.    Penggundulan hutan yang merupakan daerah resapan yang bisa memperbaharui sumber air tanah. Sekarang ini sudah menjadi berita nasional lewat berbagai media, bahwa hutan tropis di Indonesia sudah jauh berkurang. Daerah perkotaan tidak dikelola dengan perencanaan yang baik sehingga daerah terbuka hijau menjadi jarang, yang mengakibatkan air hujan tidak bisa meresap ke dalam tanah atau tidak tertampung, hanya terbuang percuma ke laut.
2.     Tingkat pencemaran yang semakin meninggi pada setiap sumber air baku baik dam, danau atau sungai. Pencemaran ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat yang membuang sampah seenaknya tetapi juga dilakukan oleh industry yang membuang limbahnya tanpa melalui bangunan pengelola limbah (IPAL) yang memadahi.
3.      Semakin menyempitnya daerah genangan air baku atau daerah aliran sungai (DAS) yang diakibatkan oleh pemukiman baik yang legal dikelola oleh developer maupun yang liar seperti yang terjadi di Sei Baloi kota Batam atau bantaran-bantaran sungai seperti Kali Ciliwung di Jakarta atau Kali Mas di Surabaya.
4.     Pendangkalan sumber air baku baik oleh sampah atau oleh lumpur sedimen. Pendangkalan akibat lumpur ini terkait dengan yang pertama yaitu penggundulan hutan sehingga lumpur yang tidak tertahan oleh pohon terbawa oleh air sungai hingga ke muara.
5.      Tingkat kebocoran air di Daerah Air Sungai akibat perbuatan perawatan yang kurang dari pemerintah atau pencurian air yang dilakukan oleh sebagian masyarakat yang belum memahami pentingnya air baku seperti yang terjadi disepanjang saluran induk Jatiluhur ke Kali Malang.
6.     Lemahnya pengawasan dan law enforcement dari pihak-pihak terkait dalam rangka menjaga sumber air baku.


Ket. Gb. Pemandangan sebagian sisi Kali Ciliwung - Krukut Jakarta (sb. http:/www.beritabatavia.com/gambar/90ciliwung-krukut.jpg)

Dari berbagai sebab yang mengakibatkan rusaknya atau berkurangnya jumlah air baku maka bisa dilakukan pencegahan yang antara lain adalah :
1.  Reboisasi atau penanaman hutan kembali bagi yang gundul. Hutan yang masih baik harus dijaga sedemikian rupa sehingga tidak menjadi rusak.
2.  Tata kelola yang baik dalam RTRK (Rencana Tata Ruang Kota) dan implementasinya di lapangan.
3.  Membangun sumur resapan pada setiap bangunan di perkotaan.
4.  Menyadarkan dan mengingatkan kembali kepada masyarakat dan pelaku industry untuk sadar akan lingkungan terutama di daerah sekitar sungai agar tidak membuang sampah atau limbah industrinya secara sembarangan. Limbah industry harus diolah dengan benar sebelum dibuang ke sungai atau laut.
5.  Membongkar bangunan yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Pengetatan IMB serta membersihkan DAS dari bangunan yang tidak terkait dengan pengelolaan sungai.
6.   Pengerukan kembali bagi sungai-sungai atau dam yang mengalami pendangkalan.
7.  Masyarakat yang melakukan pencurian air hendaknya disadarkan dan ditindak apabila tetap membandel.
8.  Penegakan hukum secara tegas sangat diperlukan dalam menjaga kelestarian sumber air baku.

Dari pembahasan di atas jelas betapa pentingnya peran air baku dalam perencanaan dan pengolahan Industri Air Minum. Peran serta masyarakat dan seluruh stake holder yang ada bahkan pemerintah wajib untuk ikut serta dan melakukan pemeliharan, pencegahan dan penindakan bagi yang tidak taat. Peran serta insan pemerhati dan pengelola air minum juga bisa dilakukan lewat lingkungan masing-masing.
Penulis yakin bahwa seandainya semua dilakukan maka cerita bahwa kita akan kekurangan sumber air baku tidak akan terjadi. Semoga.

Ref :
1.       Standar Nasional Indonesia (SNI) 6773:2008 dan 6774:2008
2.       Integrated Design Of Water Treatment Facilities by Susuku Kawamura.
3.       Basic Water Treatment 3rd  edition by Chris Binnie, Martin Kimber and George Smethurst.
4.     www.ptbck.com
 

Kebutuhan Air Pada Suatu Wilayah

Dalam tulisan sebelumnya dengan judul Studi Kelayakan Air Minum yang di posting bulan November 2010, penulis mencantumkan tentang besarnya kebutuhan air minum suatu wilayah menjadi salah satu syarat utama yang harus diketahui dalam perencanaan Sitem Perencanaan Air Minum.  

Dalam tulisan ini penulis mencoba dan mengajak pembaca untuk membahasnya lebih detail.  Ada cara mudah untuk menghitung besarnya kebutuhan air maximum suatu wilayah yaitu dengan cara mengetahui jumlah penduduk wilayah tersebut. Setiap jumlah 1.000 orang maka dihitung 1 liter/detik, sehingga dalam wilayah tersebut jumlah penduduknya mencapai 200.000 orang pada periode waktu tertentu maka kebutuhan akan air minum daerah tersebut mencapai 200 liter/detik. Cara seperti ini biasanya digunakan pada suatu daerah seperti pedesaan yang masih belum padat penduduknya dan alternative sumber air minum masih banyak seperti air tanah.

Untuk daerah yang mempunyai tingkat kompleksitas yang lebih besar seperti di daerah perkotaan cara seperti diatas kurang bisa menjadi acuan.  Untuk mendapatkan jumlah yang bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah maka perlu dilaksanakan survey.

Dalam melaksanakan survey, suatu tim harus memenuhi persyaratan dalam peraturan dan perundangan yang berlaku.  Survey dilakukan untuk mendapat data-data sebagai berikut :

1.   Penggunaan air setiap orang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Rumus yang dipakai adalah :

Pemakaian air/org/hari  = Total jumlah pemakaian air dari hasil survey  
                                                                 Jumlah kuesioner

Hal lain yang juga harus diketahui terkait dengan hal ini adalah Kenaikan jumlah penduduk daerah pelayanan setiap tahun dan kenaikan pemakaian air setiap orang seiring dengan meningkatnya perekonomian didapat  dari perbandingan bbeberapa tahun sebelumnya.

2.  Penggunaan air setiap orang untuk kegiatan non domestic.

Sumber : RSNI T-01-2003 Tata Cara Perencanaan Plumbing
Dengan menggunakan table diatas maka dapat dihitung besarnya pemakain air non domestic.

3.  Besar penghasilan.
4.  Kemampuan untuk membayar.
5.  Tipe rumah tinggal.
6.  Keinginan untuk berlangganan.
7.  Pemakaian sumber air minum yang digunakan di daerah perencanaan.

Survey dilakukan dengan membuat daftar questioner yang diserahkan kepada setiap kepala keluarga yang ada dalam suatu daerah.  Untuk domestic juga harus dihitung besaran Hidran Umum (HU) selain kebutuhan air rumah tangga.

Hitung besarnya kebutuhan air berdasar besarnya waktu perencanaan air dengan memakai data hasil survey dan prediksi jumlah penduduk. Sebagai salah satu sumber data dipakai juga trend pemakaian air yang didapat dari billing system dari perusahaan air minum existing.  
Besarnya jumlah pemakaian air didapat dari jumlah pemakaian domestic ditambah pemakain hidran umum dan pemakaian dan non domestic.

Ref : RSNI T-01-2003 Tata Cara Perencanaan Plambing
        Pedoman Penyusunan Studi Kelayakan Pengembangan SPAM - Kemenpu

Permasalahan Pelayanan Jaringan Air Bersih di Perkotaan

Secara umum pelayanan kualitas, kuantitas dan kontinyuitas aliran air minum diperkotaan cenderung bermasalah. Hal ini tentu bukan tanpa sebab. Penulis mencoba mengulasnya secara ringkas.

Indikasi :

Masyarakat masih ada yang tidak mendapatkan pelayanan air bersih sebagaimana mestinya terutama di daerah kawasan padat penduduk dan kumuh dengan tingkat ekonomi yang masih di bawah rata-rata. Masyarakat mendapat air bersih dengan cara membeli dari tukang air keliling yang harganya tentu lebih mahal apabila menjadi pelanggan PAM.  

Indikator : 
  1. Benyaknya masyarakat yang masih menggunakan air bukan hasil pengolahan atau membeli lewat pihak ke-3.
  2. Banyaknya jaringan air yang bersih yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. 
  3. Banyaknya keluhan yang disampaikan pelanggan kepada pengelola air bersih atas kualitas, kuantitas dan kontinuitas aliran air.
Pemandangan sebagian kota Jakarta - Indonesia
Penyebab : 
  1. Perubahan alokasi lahan yang tidak sesuai dengan Perencanaan Tata Ruang Kota yang yang telah disahkan baik lewat Perda maupun Undang-undang.
  2. Lemahnya sistem hukum yang tidak bisa menjerat bagi pelanggar yang tidak melaksanakan Rencana Tata Ruang Kota.
  3. Rencana Tata Ruang Kota yang ada tidak di publish secara umum sehingga hanya sebagian masyarakat yang mengetahui.
  4. Tidak mengikut sertakan peran aktif masyarakat secara umum baik dalam perencanaan maupun dalam implementasi Rencana Umum Tata Ruang Kota.  
  5. Populasi jumlah penduduk bertambah baik secara natural (jumlah kelahiran tinggi) atau pertambahan penduduk akibat arus urbanisasi dari desa ke kota yang tidak diimbangi dengan jumlah kapasitas air bersih hasil pengolahan.
  6. Keterbatasan jumlah air baku baik secara kualitas maupun kuantitas.
  7. Air baku yang ada mengalami pencemaran sehingga mengurangi jumlah air baku yang bisa diolah. Perkembangan ekonomi yang pesat di perkotaan menuntut jumlah air bersih lebih banyak baik bagi golongan domestik (perumahan warga) maupun industri.  
  8. Semakin mahalnya biaya investasi, operasional  dan maintenance penyediaan dan pengolahan air bersih sehingga beban yang ditanggung masyarkat semakin besar sementara tidak semua masyarakat mampu membayarnya.
  9. Kurangnya dukungan pemerintah dari sisi investasi dalam peningkatan infrastruktur jaringan air bersih.
  10. Pertambahan jumlah penduduk akibat urbanisasi sebagian besar bertempat di daerah-daerah yang tidak mempunyai syarat administrasi atau liar sehingga tidak mungkin pengelola air bersih menjadikan daerah atau kelompok ini menjadi pelanggannya. minum.
  11. Kelemahan manajemen dan operasional dalam pengelolaan dan penyediaan air bersih.
  • Banyaknya pipa yang bocor dan tidak akuratnya meter air akibat kurangnya pemeliharaan atau pencurian air bersih oleh oknum. 
  • Kapasitas produksi yang rendah sehingga distribusi air bersih menjadi terbatas. 
  • Lemahnya SDM yang ada sehingga operasional menjadi tidak efektif dan efisien.

Solusi : 
  1. Perencanaan Tata Ruang Kota yang baik dan benar akan menyederhanakan dan melokalisir permasalahan yang muncul.
  2. Implementasi dari RUTRK dengan disiplin dan konsisten sehingga memudahkan operasional dan pemeliharaan oleh Perusahaan Air Bersih sehingga biaya menjadi lebih murah dan masyarakat tidak menanggung beban terlalu berat dengan tarif yang lebih murah.
    Suasana pedesaan di belakang sekolah
  3. Memperketat terbitnya Surat Ijin Mendirikan Bangunan yang tidak sesuai dengan RUTRK.
  4. Memperkuat penegakan hukum bagi warga atau perusahaan yang melanggar RUTRK.
  5. Mengumumkan secara luas dan melibatkan peran aktif masyarakat dimulai dari perencanaan awal, implementasi sampai dengan pengawasannya.
  6. Pemerataan pembangunan dan pusat-pusat ekonomi sehingga mencegah adanya penumpukan penduduk pada suatu daerah, hal ini untuk mengimbangi keterbatasan sumber air baku yang ada.
  7. Memperkuat manajemen Perusahaan Pengelola Air Bersih.
  8. Dalam jangka pendek perlu adanya program shortcut untuk mengatasi permasalahan air bersih yang ada pada suatu daerah. Salah satunya dengan program CSR (Corporate Social Responsibility), seperti adanya tanki air, kios air atau meter induk (hal ini akan ditampilkan pada lain kesempatan.   
Sekian. Terimakasih.                                            

Cabang pada Pipa Kecil

Postingan kali ini menjawab pertanyaan dari salah seorang sahabat yaitu berapa banyak Pelanggan / SSR yang bisa dilayani oleh pipa dengan dimensi kecil ?

Pertanyaan diatas masih terlalu luas karena untuk menentukan berapa banyak maka harus jelas kriteria pendukungnya. Sebenarnya dalam mengalirkan air, satu pipa air tidak ada batasan maximum berapa banyak pipa tersebut bisa dicabang. Hal tersebut tergantung dari dari besar kecilnya debit air dan tekanan yang masuk ke pipa tersebut. Seperti kita ketahui dalam perhitungan desain pipa berlaku rumus :

Q = V. A

dimana :                           Q     :  Debit Air (m3/dtk)
                                        V     :  Kecepatan (m/dtk)
                                        A     :  Luas penampang pipa (m2)


Kemudian untuk pipa yang bercabang dimana satu pipa utama dibagi kepada beberapa pipa cabang sehingga didapatlah rumus : 
 
Kemudian untuk menentukan besarnya tekanan yang ada di pipa, kita bisa menggunakan rumus atau persamaan Bernoulli. Sebelumnya kita lihat ilustrasi gambar dibawah ini :



 
Biasanya setiap perusahaan air minum akan menentukan besaran standar tekanan yang berada di jaringan dan yang menjadi patokan adalah besar tekanan yang berada diujung meter air pelanggan. Idealnya suatu tekanan air di ujung meter air pelanggan sebesar 1,5 bar. Dengan ukuran ini maka air masih bisa mengalir hingga ke lantai 3, tanpa menggunakan pompa. Dari gambar kita bisa melihat adanya perbedaan tekanan antara di ambur dengan di meter air. Dengan persamaan Bernoulli kita bisa menghitung besarnya perbedaan tekanan tersebut :

 
Dimana :

Z              = elevasi (tinggi tempat)

          = tinggi tekanan

          = tinggi kecepatan

D             = diameter pipa (m)

L              = panjang pipa

v              = kecepatan aliran (m/det)

g              = gravitasi (m/det2)

f               = koefisien kehilangan energi gesekan pipa

k              = koefisien kehilangan energi primer/sekunder akibat gesekan pipa

 

Contoh :

Pipa panjang 100 m dengan diameter 2”, jenis pipa HDPE dengan koef gesek f = 0,015. Perbedaan tekanan dititik A menuju titik B adalah 1 kg/cm2 (4 bar). Hitung debit alirannya :


 
Perbedaan tekanan antara A dan B  P  = 1 kg/cm2 = 10.000 kg/m2.
 
Karena pipa horizontal maka (z1 = z2) dan kecepatan aliran sepanjang pipa aliran adalah sama v1=v2  Maka persamaan diatas dapat ditulis menjadi :




Sehingga :   
 
0,015 x (100/0,05)x (v2/(2x9,18)) = 10.000/1.000

                V = 13,55 m/det


Debit aliran adalah :  Q   = A.v  

                                           = ¼ x π x 0,052 x 13,55

                                           = 0,0266 m3/det.



Dengan debit tersebut dibagi menjadi 20 pelanggan (asumsi, lebar rumah 5 meter), maka masing-masing pelanggan secara teknis akan memperoleh 0,00133 m3/det atau sama dengan 1,3 ltr/det.

Debit tersebut diberikan kepada pelanggan dengan asumsi pipa pelanggan ¾”, maka di dapat



v = Q/A    = 0,00133/ (¼ x 3,14 x 0,022) = 4,235 m/det. Dengan menggunakan persamaan Bernoulli maka besar tekanan yang diharapkan bisa diperoleh.

Kesimpulannya adalah bahwa jumlah pelanggan sangat tergantung dari besar pressure dan debit yang mengalir dalam suatu pipa. Dengan besar pipa yang sama, pelanggan bisa bertambah jumlahnya jika pressure yang diberikan pada pipa juga ditambah sehingga berpengaruh kepada debit. Sebaliknya apabila pressure berkurang atau dikurangi maka pelanggan tidak akan mendapat debit sesuai yang diharapkan.

Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah adanya keseimbangan antara tekanan dengan debit yang keluar dari pipa tersebut, apabila diperkirakan debit air yang keluar sedikit maka pressure hendaknya diperkecil, caranya dengan mematikan sebagian pompa yang ada apabila menggunakan pompa langsung atau dengan menutup sebagian valve distribusi yang ada apabila pressure didapat dengan cara gravitasi. Hal ini dilakukan untuk penghematan juga untuk mengurangi jumlah kebocoran, karena apabila pressure terlalu besar yang terjadi adalah air akan mencari titik lemah yang ada seperti pada sambungan atau di ambur, lebih ekstrim lagi bisa terjadi water hammer atau air balik. Maka dari itu di bagian distribusi ada istilah pressure management.